Berita

AKABA Gelar Pembaretan dan Lintas Juang Angkatan 24 dan 25 sebagai Puncak Tradisi Kaderisasi Taruna

HUMAS AKABA 08 Dec 2025

Akademi Kelautan Banyuwangi kembali menyelenggarakan tradisi pembaretan dan lintas juang bagi taruna Angkatan 24 dan 25 pada 5–7 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda besar dalam kalender pembinaan taruna yang bertujuan menandai berakhirnya masa pembentukan fisik dan mental (mabintal) serta meresmikan transisi Tunas Taruna Angkatan 25 menjadi Taruna Muda. Selama tiga hari kegiatan berlangsung dengan penuh kedisiplinan, ketangguhan, dan nilai-nilai kepemimpinan yang melekat dalam jati diri seorang taruna AKABA.

Pelaksanaan kegiatan ini diprakarsai oleh jajaran rektorat bersama seluruh dosen Akademi Kelautan Banyuwangi serta panitia inti dari Taruna Angkatan 24 yang bertindak sebagai pengarah teknis dan pendukung lapangan. Kehadiran para pejabat, khususnya Ketua Argawana Indonesia, Bapak Didik, menambah pentingnya makna kegiatan ini. Beliau hadir sekaligus memberikan materi Lintas Juang kepada para peserta sebagai bekal karakter dan mental kepemimpinan sebelum menjalani seluruh rangkaian prosesi.

Kegiatan dibuka pada Jumat, 5 Desember 2025, di Kampus Akademi Kelautan Banyuwangi. Upacara pembukaan tersebut menjadi titik awal rangkaian panjang kegiatan yang menguji ketahanan fisik, mental, serta kekompakan antar taruna. Dalam amanat pembukaan, Bapak Wakil Direktur I selaku pembina upacara menekankan bahwa pembaretan bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk pelatihan karakter yang telah menjadi tradisi turun-temurun dalam dunia ketarunaan. Baret yang akan dikenakan nantinya merupakan simbol kehormatan, tanggung jawab, dan harga diri sebagai taruna AKABA.

Sebelum puncak acara, para Tunas Taruna Angkatan 25 telah melaksanakan tahapan awal berupa “penebusan emblem baret” di beberapa instansi yang telah ditentukan pihak akademi. Tahapan ini mengajarkan kedisiplinan administrasi, komunikasi, serta jiwa korsa melalui proses yang mengedepankan tata krama dan etika. Penebusan emblem baret menjadi langkah simbolik bahwa seorang tunas taruna harus memperjuangkan setiap identitas yang akan disandangnya.

Pada Sabtu, 6 Desember 2025, prosesi inti pembaretan dilaksanakan. Sejak pagi, para tunas taruna dikelompokkan dalam beberapa regu dan diberangkatkan menuju Gunung Remuk. Perjalanan menuju titik pengambilan baret ditempuh dalam waktu 5 hingga 6 jam dengan rute menantang yang melibatkan lima pos utama. Setiap pos memiliki tugas berbeda yang dirancang untuk menguji kerjasama tim, ketahanan fisik, kecerdasan dalam mengambil keputusan, serta kemandirian dalam menghadapi medan.

Suasana perjalanan berlangsung penuh dinamika. Para tunas taruna harus berjalan kaki dengan beban perlengkapan penuh, menembus jalur perbukitan, hutan, hingga aliran sungai. Tugas di setiap pos menuntut ketelitian dan kedisiplinan, mulai dari orientasi medan, pertolongan pertama, pengetahuan ketarunaan, hingga uji ketahanan fisik. Rangkaian tugas tersebut menjadi bagian terpenting dari proses transformasi mental sebelum para tunas taruna layak menyandang baret sebagai simbol kedewasaan dalam dunia ketarunaan.

Setibanya di Air Terjun Selogiri, para tunas taruna menjalani prosesi pengambilan baret dengan cara melawan derasnya aliran air terjun. Prosesi ini menjadi momen emosional dan penuh haru, karena setiap baret yang ditemukan dan digenggam merupakan hasil perjuangan dan ketahanan diri. Tantangan ini dimaknai sebagai simbol bahwa seorang taruna harus selalu siap menghadapi kerasnya medan tugas di masa depan.

Usai pengambilan baret, para peserta diarahkan menuju pantai sebagai lokasi prosesi penyematan baret dan brevet Lintas Juang. Perpindahan dari pegunungan menuju pesisir memberikan pesan bahwa taruna kelautan harus mampu beradaptasi dengan berbagai situasi alam, baik darat maupun laut. Di pantai tersebut diadakan apel penutupan sekaligus penyematan baret kepada Taruna Muda Angkatan 25. Penyematan baret dilakukan secara khidmat, diiringi penghormatan dan ikrar taruna yang menandai komitmen mereka untuk mengemban nilai-nilai kehormatan, loyalitas, dan integritas. Selain baret, brevet lintas juang juga diberikan sebagai tanda bahwa taruna telah menuntaskan seluruh rangkaian latihan ketahanan dan kepemimpinan.

Melalui kegiatan ini, Akademi Kelautan Banyuwangi berharap para taruna mampu memahami bahwa menjadi seorang taruna bukan hanya tentang kemampuan akademik, melainkan juga pembentukan karakter dan kedewasaan dalam bersikap. Pembaretan dan lintas juang menjadi simbol perjalanan menuju kedisiplinan dan profesionalitas dalam dunia kemaritiman. Dengan berakhirnya kegiatan pada Minggu, 7 Desember 2025, seluruh rangkaian berjalan aman, tertib, dan penuh makna. Taruna Angkatan 25 secara resmi menyandang status Taruna Muda, siap menjalani pendidikan selanjutnya dengan semangat baru sebagai generasi penerus maritim Indonesia.

Berita Terkait Lainnya